Tren Desain Interior Kembali ke Alam dan Gaya Tradisional

Berita Aktual, Berita Properti – Jakarta – Tren desain interior hunian terus berubah-ubah, baik dari segi materialnya, selera, hingga keterjangkauan harga. Tidak menutup kemungkinan, tren tahun ini berbalik arah ke tren masa lalu atau ke arah yang lebih tradisional.

Seperti yang disampaikan oleh Chairman of HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) Rohadi. Dia mengatakan bahwa di Indonesia, tren desain interior terkini mulai kembali kepada desain tradisional dan kedaerahan, seperti nuansa warna alam dan ornamen tenun.

Baca Juga : Warga Hong Kong Mulai Lirik Properti di Australia

Sementara itu, dari segi internasional fokusnya kepada bahan yang digunakan, karena mulai ada tren eco-living.

“Tren itu [eco-living] sudah menjadi trending topic di mana-mana karena itu juga menjadi keharusan bahwa semua harus safety, apa materialnya. Jangan sampai buang plastik atau tidak sustainable,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (31/10/2019).

Lalu dari segi warna, tren yang ada saat ini cenderung kembali ke warna alami, mengarah pada hal-hal yang dulu pernah ada, tetapi dengan kriteria yang lebih spesifik. Salah satu implementasinya seperti warna cokelat dengan menggunakan material kayu.

“Kayu sekarang walaupun sudah susah dicari, tapi orang yang penting look-nya kayu walaupun dalamnya bukan solid wood, misalnya, orang tetap banyak pakai,” jelasnya.

Rohadi juga menyebutkan bahwa tahun ini warna-warna mencolok tidak lagi menjadi tren, tetapi mengarah ke warna-warna pastel yang lebih lembut.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi pelopor desain interior dengan tren yang sedang berlangsung. Dengan banyaknya kekayaan budaya, warna, dan material yang bisa digali.

“Jadi, bagaimana kita bisa mengangkat budaya lokal ke internasional. Bambu tidak lagi hanya dipotong disambung, sekarang bambu diolah bisa jadi material yang fungsinya variatif,” kata Rohadi.

Selain itu, bahan daur ulang juga akan jadi tren sebagai proses kreativitas. Di negara maju, bahan daur ulang juga diutamakan karena negara maju cenderung mengutamakan lingkungan.

“Jadi, misalnya, orang mau beli bantal, dia lihat dulu ini dari bahan apa, kalau itu mengarah pada bahan yang tidak bisa didaur ulang atau berbahaya, mereka mundur, tetapi kalau dari industri kerajinan pasti mereka beli,” katanya.

Rohadi optimistis Indonesia bakal mempunyai posisi terkait dengan tren daur ulang. Pasalnya, bahan sisa dari beragam industri juga banyak sehingga bisa dimanfaatkan oleh desainer interior.

Baca Selanjutnya : Aman dan Terjangkau dengan KPR Hingga 75 Persen, Ini Saatnya Investasi Properti di Australia