‘Truk VS Komodo’ Viral HPI NTT Ikut Komentari Komersialisasi TN Komodo

Beritaaktual.NetFoto yang sedang ramai dibahas di dunia maya, yaitu truk versus komodo (Varanus komodoensis) di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, menuai kritik dari netizen soal pengembangan komersial atas nama pariwisata di Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut. Tagar #savekomodo juga muncul di media sosial.

Selain dari komunitas pelestarian alam, Himpunan Pemandu Wisata Indonesia (HPI NTT) Nusa Tenggara Timur ikut mengomentari masalah tersebut.

Ketua HPI NTT Agustinus Bataona mengatakan pembangunan komersial di taman nasional tersebut tentunya berdampak buruk, salah satunya mengganggu habitat alami komodo.

Namun, dia belum bisa memberikan angka pasti mengenai kawasan habitat komodo yang akan ‘digusur’ oleh pembangunan komersial.

Dilansir dari CNNIndonesia, Agustinus mengatakan bahwa belum diketahui persis seperti apa dampak terhadap ekosistem selama proses pembangunan komersil tersebut. Juga terkait adanya pelanggaran terhadap konservasi setelah masuknya investasi besar di sana.

“Namun sebenarnya, pemanfaatan komersial kawasan taman nasional hanya diperbolehkan nol koma sekian persen. Jika lebih dari itu, konteksnya sudah diluar dari pengembangan dalam koridor ekowisata,” lanjutnya.

HPI menyatakan dukungannya atas upaya pemerintah mengembangkan pariwisata di Taman Nasional Komodo untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah masyarakat menginginkan pembangunan berbasis lokal dengan tetap menjaga alam.

Konsep ekowisata, seperti pembangunan yang tidak mengganggu aktivitas fauna dan flora di habitat aslinya disertai dengan membatasi jumlah wisatawan, dinilai dapat diterapkan.

Ditambah dengan pembentukan area tempat kapal wisata berlabuh – agar tidak merusak terumbu karang tempat habitat ikan tangkapan nelayan, meningkatkan kesejahteraan jagawana yang berpatroli, hingga mengedukasi pariwisata bagi warga.

“Pendampingan yang intensif kepada masyarakat, terutama dalam hal teknologi dapat membantu menyempurnakan konsep ekowisata. Sehingga masyarakat dapat menjadikan pariwisata sebagai mata pencaharian alternatif,” ujarnya.