Ada 7 Poin Fakta Yang Menarik Di Sidang Kasus E-KTP

ada-7-poin-fakta-yang-menarik-di-sidang-kasus-e-ktp

Berita Aktual, Berita Nasional – Persidangan ke-2 dalam masalah sangkaan korupsi proyek e-KTP di gelar di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Beberapa kenyataan menarik nampak dalam sidang yang di pimpin Ketua Majelis Hakim Jhon Halasan Butarbutar.

Sedianya, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal mendatangkan delapan saksi. Tetapi, dalam persidangan cuma enam saksi yang memberi info.

Beberapa saksi itu, yakni bekas Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi ; Sekretaris Jenderal Kemendagri sekarang ini, Yuswandi Temanggung ; bekas Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraeni ; Direktur Sarana Dana Perimbangan Ditjen Keuangan Kemendagri Elvius Dailami.

Diluar itu, bekas Ketua Komisi II DPR, Chaeruman Harahap serta Direktur Paling utama PT Karsa Wira Paling utama, Winata Cahyadi.

Di bawah ini yaitu beberapa kenyataan menarik tentang sidang yang jalan nyaris 10 jam itu.

1. Gamawan salahkan masyarakat

Dimuka persidangan, Gamawan menyalahkan orang-orang berkaitan terhambatnya proyek e-KTP.

Gamawan menyampaikan, kendala berlangsung waktu pelaksana proyek mesti lakukan perekaman data masyarakat.

Menurut Gamawan, kesusahan berlangsung waktu orang-orang banyak yg tidak datang untuk menyerahkan data jati diri.

” Lantaran menurut undang-undang, yang aktif itu rakyat, bukanlah pemerintah, ” kata Gamawan.

2. Gamawan akui terima uang

Gamawan mengaku terima sekian kali pemberian duit. Tetapi, ia beralasan, pemberian duit itu berkaitan keperluannya untuk berobat serta honor kerja.

Ia mengakui pernah meminjam duit Rp 1 miliar pada adiknya, Azmin Aulia. Duit itu dipakai untuk beternak sapi serta bertani.

Diluar itu, Gamawan mengakui meminjam duit pada entrepreneur Afdal Noverman sebesar Rp 1, 5 miliar. Duit itu untuk kepentingan berobat di Singapura.

Lalu, ia mengaku terima duit Rp 50 juta. Tetapi, duit itu diklaim sebagai honor kerja.

3. Mantan Sekjen Kemendagri terima 500.000 dollar AS

Bekas Sekjen Kemendagri, Diah Anggarini, mengakui 2 x terima duit. Pertama, ia terima duit dari Irman yang waktu itu menjabat Dirjen Kependudukan serta Pencatatan Sipil Kemendagri sejumlah 300. 000 dollar AS.

Ke-2, ia terima 200. 000 dollar AS dari entrepreneur pemenang tender proyek e-KTP Andi Agustinus, dengan kata lain Andi Narogong.

4. Pertemuan dengan Setya Novanto

Dalam kesaksian setelah itu, Diah menyampaikan, ada pertemuan yang di hadiri Irman dan anak buahnya, Sugiharto, serta Andi Narogong sebagai pelaksana proyek e-KTP.

Pertemuan yang dikerjakan di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, sekira jam 06. 00 WIB, juga di hadiri Setya Novanto.

Tetapi, tak dijelaskan kapan pertemuan itu berlangsung. Novanto waktu itu adalah Ketua Fraksi Partai Golkar.

Pertemuan itu, kata Diah, berjalan singkat. Novanto juga tampak terburu-buru lantaran ada acara lain.

5. Catatan skema pengendali korupsi e-KTP

Dalam persidangan tersingkap kalau penyidik KPK bukan sekedar temukan catatan duit miliaran rupiah di tempat tinggal punya bekas Ketua Komisi II DPR, Chairuman Harahap.

Waktu dikerjakan penggeledahan, penyidik juga temukan catatan diisi skema ingindali korupsi pengadaan e-KTP.

Dalam bukti yang dipertunjukkan jaksa KPK, catatan itu berjudul yang mengatur serta merekayasa serta mark-up harga serta pimpinan ingindali (Bos e-KTP) biaya APBN 2011-2012, pagu Rp 5, 9 triliun.

Beberapa nama dimaksud dalam skema itu, termasuk juga Setya Novanto serta Anas Urbaningrum yang disebut Ketua Fraksi Demokrat.

6. Beda Keterangan Chairuman dan Gamawan

Awalannya, Gamawan menyampaikan, Komisi II DPR RI periode 2009-2014, mengusulkan pergantian sumber biaya proyek pengadaan e-KTP.

Awalnya, sumber biaya gagasannya datang dari Utang Hibah Luar Negeri (PHLN).

Tetapi, terakhir disetujui dibiayai dengan rupiah murni, atau dari Biaya Pendapatan serta Berbelanja Negara (APBN).

Menurut Gamawan, hal semacam itu disetujui dalam rapat dengar pendapat berbarengan Komisi II DPR RI.

Tetapi, Chairuman malah menyampaikan kalau Kementerian Dalam Negeri yang mengusulkan pergantian sumber biaya.

” Setahu saya itu bukanlah usulan Komisi II. Itu usul pemerintah, ” kata Chairuman.

7. Pesan mendesak Setya Novanto

Sesudah beberapa saksi, giliran Irman yang memberi respon. Irman mengungkap isi pesan menekan yang di sampaikan Setya Novanto padanya.

Awalannya, pesan menekan itu di sampaikan Setya Novanto pada Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraini.

Lalu, Diah memohon biro hukum Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh, untuk mengemukakan pesan Novanto pada Irman.

” Saya bingung, ada yang datang malam hari jam 22. 00 ke tempat tinggal saya. Yang mengemukakan ngomong ke saya, ada pesan dari Setya Novanto, pesannya menekan, ” kata Irman.

Menurut Irman, pesan yang di sampaikan itu diisi peringatan supaya Irman tak buka mulut pada KPK tentang hubungan dengan Setya Novanto dalam masalah e-KTP.

” Kalau bila di check, tolong di sampaikan kalau saya tak kenal dengan Setya Novanto, ” kata Irman.

Menurut Irman, pesan itu di sampaikan pada akhir 2014. Waktu KPK sudah mengambil keputusan Sugiharto sebagai tersangka.

Salam Admin By Vijay Semoaga Berita Ini Bermanfaat.

Related posts