Bila Setnov Menang Praperadilan, Mungkinkah Golkar Akan Kehilangan Kepercayaan Dari Publik?

Bila Setnov Menang Praperadilan, Mungkinkah Golkar Akan Kehilangan Kepercayaan Dari Publik?

Berita Aktual, Berita Nasional – Setelah Ketua DPR , Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus korupsi e-KTP, kali ini seperti biasanya Setnov kembali mengajukan gugatan praperadilan kepada pihak Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Adapun sidang dari perdana nantinya akan digelar pada 30 November mendatang.

Apabila nantinya Setnov kembali sukses dalam memenangkan praperadilan dan posisinya sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar tetap masih dipegang oleh dirinya, maka sudah bisa dipastikan bila dampaknya nanti akan sangat berimbas besar terhadap partai yang berlambang beringin tersebut. Adapun salah satunya yang paling berpengaruh adalah rasa kepercayaan publik yang memudar terhadap partai tersebut.

Tentunya hal tersebut juga sudah disampaikan melalui penulis buku Sejarah Golkar yakni Alfan Alfian dalam diskusinya yang diselenggarakan di Populi Center dan bertema “Golkar Pasca Novanto”. Menurut penuturan dari Alfan bahwa masyarakat sudah mulai luntur rasa kepercayaan mereka.

“Apabila nantinya berhasil lolos dari praperadilan, tentunya hal ini akan menjadi suatu dilema tersendiri dari Partai Golkar. Kalau pun bertahan di Golkar, Golkar akan mengalami ketekoran kepercayaan masyarakat,” bebernya sewaktu berada di Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (25/11/2017).

Nah yang parahnya bila tidak ada lagi kepercayaan dari publik maka sudah dipastikan elektabilitas partai akan semakin menurun kian hari. Politik sendiri sangat berkaitan dengan persepsi publik yang juga saling berkait dengan integritas personal.

“Tentunya yang namanya Integritas personal dalam partai politik itu sangat amat bergantung pada sosok ketua umum. Yang jelasnya ketua umum itu bahkan merupakan personalisasi politik sebuah partai,” terangnya.

Untuk masalah yang berkaitan dengan disintegritas dan juga isu moralitas politik maka tentu akan berimbas kepada sudut pandang negatif publik terhadap parpol. Selain itu bukan hanya berdampak pada Partai Golkar, tapi juga pada marwah DPR yang mengingat Setnov juga masih menjabat sebagai Ketua DPR.

“Oleh sebab itu apabila misalnya praperadilan tersebut dikabulkan ataupun tidak dikabulkan, tidak ada urusannya. Karena dispute of distrust itu sudah terjadi pada sosok dari seorang Pak Novanto. Ini perlu menjadi bahan pertimbangan kembali yang perlu untuk dipikirkan secara baik oleh Partai Golkar maupun para elit yang ada di DPR,” tegasnya.

Menurut Alfan akan lebih disarankan bila Setnov lebih berbesar hati untuk mengundurkan diri karena dia telah menjadi beban bagi partainya. “Dengan mengundurkan diri maka dirinya justru malah lebih terhormat. Sehingga untuk jalan keluar dari kemelut politik dan juga internal Golkar saya kira yang paling elegan yaitu apabila Pak Setnov mengundurkan diri,” imbuhnya.

Related posts