Buni Yani Gigit Jari, Hakim Tolak Permintaan Untuk Tanggapi Jawaban JPU

Buni Yani Gigit Jari, Hakim Tolak Permintaan Untuk Tanggapi Jawaban JPU

Berita Aktual, Berita Nasional – Kekecewaan terus dirasakan oleh Buni Yani, kini pihak dari majelis hakim telah menolak permintaannya beserta tim kuasanya dalam menanggapi jawaban atas jaksa perihal mengenai eksepsi yang sebelumnya diajukan.

Adapun tanggapan tersebut diberikan oleh Buni Yani karena dirinya menilai bahwa jawaban yag diberikan oleh JPU tidak lengkap.

Tim dari pengacara Buni Yani pada awalnya memberikan respon mengenaijawaban jaksa tentang nota keberatan atau yang biasa disebut eksepsi terkait dakwaan kasus ITE.

“Kami ingin mengajukan permintaan terkait tidak lengkapnya poin per poin yang disampaikan serta semuanya tidak terurai dengan baik. Namun kami menerima bahwa eksepsi harus ditolak,” ungkap Aldwin Rahadian yang merupakan pengacara dari Buni Yani, sewaktu di gedung Perpustakaan dan Arsip, Jalan Seram, Kota Bandung, Jabar, pada Selasa (04/07/2017).

Aldwin juga menilai bila jaksa pada Kejari Depok tidak siap menyusun surat tanggapan. Selain itu Aldwin juga menyinggung terjadinya kesalahan penulisan yang juga sempat ditanya majelis hakim yang diketuai oleh M Sapto.

“Kita saat ini bisa melihat bahwa hakim malah memberitahukan ada beberapa hal yang bersifat teknis penulisan dan tidak cukup sistematis dari JPU,” ungkap dirinya.

Oleh karena itu, dari pihak Buni Yani ingin meminta diberikan kesempatan dalam menjawab tanggapan jaksa atas eksepsi kliennya yang dibacakan didalam persidangan pekan lalu.

“Saat ini kami memohon kembali kepada pihak majelis hakim untuk diberikannya hak dalam menanggapi jawaban dari JPU,” tuturnya.

Namun kami cukup kecewa karena permintaan tersebut ditolak majelis hakim. Saat itu Hakim memutuskan bila sidang akan dilanjutkan kembali pada Rabu, 11 Juli dengan agenda putusan sela.

“Adapun ketentuan dalam KUHAP memang demikian peraturannya. Sehingga Semua argumen sudah tertuang,” ucap dia.

Terkait diluar itu, Buni Yani kini didakwa karena telah mengubah video pidato dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu dengan menghapus kata ‘pakai’. Selain itu, Buni Yani juga didakwa telah menyebarkan informasi yang tidak benar sehingga menimbulkan kebencian terhadap masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal ini dikaitkan dengan posting-an Buni Yani di Facebook sebelummnya.

Related posts