Cerita Anas Terpancing Dengan Tweet SBY

cerita-anas-terpancing-dengan-tweet-sby

Berita Aktual, Berita Nasional Minggu paling akhir mendekati Pilkada DKI Jakarta, keadaan politik di Ibu Kota selalu memanas. Sesudah masalah penistaan agama yang menyeret calon gubernur nomer urut dua Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ke meja hijau mulai mereda, saat ini sorotan mata umum tertuju ke presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY yang disebut bapak calon gubernur nomer urut tiga, Agus Harimurti Yudhoyono, jadi sorotan sesudah pengacara Ahok mengungkap dalam sidang kalau ada komunikasi pada SBY serta Ketua MUI Ma’aruf Amin berkaitan pencalonan serta usaha pemenangan Agus serta pasangannya, Sylviana Murni, di Pilkada 15 Februari yang akan datang.

Umum juga mengira tindakan besar-besaran yang berjalan akhir 2016 lantas tidak terlepas dari usaha untuk memenangkan Agus-Sylvi.

Sudah pasti SBY tidak terima tudingan itu. Ia menyanggah hal itu tidak cuma lewat konferensi pers, namun juga lewat beberapa tweet di account Twitternya.

Apa yang berlangsung? Umum malah memplesetkan serta jadikan tweet SBY sebagai bahan candaan, sampai bikin satu diantara tweet SBY jadi tema paling atas.

” Saya ajukan pertanyaan kpd Ayah Presiden & Kapolri, apakah saya tak mempunyai hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya punyai? *SBY*, ” tweet SBY pada 6 Februari 2017.

Walau tweet-nya jadi bahan candaan, SBY tampak tidak mempersoalkannya. Buktinya, pada Rabu siang, 8 Februari 2017, dia kembali berkicau di account Twitternya, @SBYudhoyono.

Brainwash Politik

Dalam tweet paling barunya SBY mengingatkan mahasiswa masalah brainwash politik.

” Untuk beberapa mahasiswa, calon-calon pemimpin hari esok, tiap-tiap pemimpin & pemerintahan senantiasa ada keunggulan & kekurangannya. *SBY*, ” cuit SBY.

Dia meneruskan dengan menulis, ” Tak ada Presiden & pemerintahan yg semua hebat & senantiasa berhasil. Tetapi, tak ada juga yg semua buruk & tidak berhasil. *SBY*. “

” Demikian yg berlangsung di Indonesia, dari mulai Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, SBY & Pak Jokowi *SBY*. “

” Pekerjaan pemimpin & generasi selanjutnya adlh meneruskan yg telah baik & melakukan perbaikan yg belum baik. Continuity & Change. *SBY*. “

” Hati-hati pada ” brainwash ” politik. Beberapa orangtua & negara, mengharapkan semuanya mahasiswa berhasil & miliki hari esok yg gemilang. *SBY*. “

SBY mengingatkan mahasiswa sebelumnya setelah sekumpulan mahasiswa mengadakan tindakan di tempat tinggal pribadinya di lokasi Kuningan, Jakarta Selatan.

Berkaitan hal semacam ini, dalam pidato politiknya di Dies Natalis HUT ke-15 Partai Demokrat, Selasa malam, 7 Februari 2017, SBY menilainya pengerahan massa dalam jumlah besar kurang pas. Dia bahkan juga memohon penghentian pengerahan massa dengan cara besar-besaran.

” Pengerahan kemampuan massa dalam jumlah yang sangat besar, dari pihak mana juga, mungkin telah waktunya disudahi. Gerakan massa yang berhadap-hadapan dapat menyebabkan bentrokan fisik serta kekerasan yg tidak kita kehendaki, ” tutur SBY di JCC, Senayan, Jakarta.

Menurutnya, jangan pernah ada bentrokan horizontal di dalam orang-orang, seperti di saat lantas karenanya ada momen Sampit, Poso, Ambon, bahkan juga serangan golongan radikal seperti ISIS jadi memakai kondisi ini.

” Mungkin saja saya dituduh cuma menakut-nakuti. Melebih-lebihkan. Tak, Saudara-saudara. Saya turut mempunyai serta begitu menyukai negeri ini, ” tutur SBY.

” Sangatlah kerap saya mendengar kalimat ‘negara mesti hadir’. Sekaranglah waktunya negara betul-betul ada. Ada serta melakukan tindakan pas, adil, serta bijak, ” ucap SBY.

Diluar itu, Ketua Umum Partai Demokrat itu menyampaikan, saat dianya jadi presiden, kondisi politik yang gaduh serta panas juga dihadapi. Beragam pihak melayangkan kritik serta sinis pada pemerintahan yang di pimpinnya.

” Kewibawaan serta kehormatan saya kerap terserang serta dilecehkan dengan cara vulgar, ” kata SBY.

Dalam pidatonya, SBY juga mengungkapkapkan sikapnya yang pesimis polisi bakal merampungkan masalah demonstrasi mahasiswa di tempat tinggalnya. Walau dia telah melaporkan masalah itu pada polisi.

” Saya pesimis bila masalah unjuk rasa serta geruduk yang tidak mematuhi hukum itu diusut serta dituntaskan oleh penegak hukum, ” kata SBY

Konon, kata SBY, beberapa mahasiswa itu diprovokasi serta diagitasi di lokasi Pramuka Cibubur. SBY menilainya, keadaan ini begitu menyedihkan apabila lokasi terhormat itu malah jadikan arena propaganda.

” Begitu menyedihkan bila komunitas serta lokasi terhormat itu dikotori oleh tangan-tangan hitam yang lakukan agitasi serta propaganda (agitprop) untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya, ” tutur SBY.

Dalam provokasi itu, SBY menyebutkan beberapa mahasiswa dicekoki kalau Ketua Umum Partai Demokrat itu adalah perusak negara serta mesti di tangkap.

” Naudzubillah. Siapa yang mengakibatkan kerusakan negara? Susah dipahami bila pihak-pihak kekuasaan tak tahu, ” ucap SBY.

Bukan Aksi, tapi Sosialisasi

Sesaat mahasiswa peserta Jambore Nasional yang berjalan di Cibubur, Jawa Barat, menyanggah tindakan mereka di dekat tempat tinggal Presiden ke enam RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY yaitu penggerudukan. Mereka mengakui tindakan itu cuma menyosialisasikan hasil jambore itu.

Ketua Panitia Jambore Nasional Mahasiswa Indonesia, Septian Prasetyo, menerangkan, hadirnya mereka di dekat tempat tinggal SBY di Kuningan, Jakarta Selatan, yaitu murni gagasan mahasiswa.

” Saat malam ke-2 (acara Jambore), itu pure acara mahasiswa. Ada tamu yang tidak disangka, yakni Antasari Azhar, ” kata Septian di Universitas STIMIK Raharja, Kota Tangerang, Selasa, 7 Februari 2017 malam.

Dia mengungkap, kehadiran Antasari seperti berikan pencerahan. Bekas Ketua KPK itu menerangkan urutan jadi ketua instansi antikorupsi dan mengungkap ada tanda-tanda kriminalisasi dalam masalah pembunuhan Nasrudin Zulkarnain.

” Beliau katakan banyak menjebloskan orang dekat penguasa saat itu, ” ucap Septian.
Dari pemaparan Antasari itu, mahasiswa lalu mengadakan sidang pleno. Mereka bersidang hingga pagi mengulas satu diantara pemaparan Antasari tentang banyak masalah korupsi yang pengusutannya belum selesai sampai saat ini.

” Hingga jam enam pagi. Begitu susah menyimpan semuanya masukan rekan-rekan, ” tutur Septian.

Diambil kesimpulan dari sidang panel itu, beberapa mahasiswa menginginkan supaya masalah korupsi di saat lantas serta sekarang ini diusut selesai. Dari sana mahasiswa mengambil keputusan untuk lakukan tindakan sosialisasi. Waktu itu Septian mengakui berlangsung debat panjang untuk menyosialisasikan hasil Jambore itu.

Sampai pada akhirnya muncul perjanjian tindakan sosialisasi serta bebrapa untuk selebaran dikerjakan di dua titik, Kuningan serta DPR. Walau sekian, Septian mengakui tindakan ini murni gagasan mahasiswa serta Antasari tak ikut serta atau ambillah andil.

” Itu hasil perjanjian dari kawan-kawan, ” tegas Septian.

Berkaitan izin serta akomodasi tindakan dirumah SBY, panitia membetulkan tidak mengantonginya dari polisi. Mereka berdalih tindakan itu bukanlah demonstrasi, tetapi sosialisasi umum.

” Kita tak gunakan izin, lantaran hanya bebrapa untuk selebaran, ” kata Septian.

Reaksi Jokowi

Bukan sekedar mahasiswa yang menyikapi cuitan serta kritik SBY. Wakil Presiden Juiceuf Kalla menyampaikan, tidak jadi masalah dengan kritik yang di sampaikan. Menurut JK, sebagai partai diluar pemerintah, kritikan SBY itu sebagai input yang begitu lumrah.

” Ya partai diluar pemerintah itu ya seperti itu, ” kata JK selesai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta

Untuk JK, partai (SBY) yang ada diluar pemerintahan telah sepatutnya mengawasi kerja pemerintah. Apabila ada yang di rasa kurang baik atau melenceng dari ketetapan, partai-partai berikut yang mengingatkan pemerintah.

Presiden Jokowi juga menyikapi cuitan SBY dengan menyampaikan, harusnya SBY mengulas masalah itu dalam komunitas tertutup, serta bukanlah lewat sosial media.

” Tambah baik jika segalanya yang terkait dengan negara itu dirembuk, dibicarakan dalam komunitas tertutup, ” ucap Jokowi di Ambon, Maluku, Rabu 8 Februari 2017.

Ia yakini, apabila keluhan SBY di sampaikan di komunitas tertutup, akan tidak jadi ramai serta menyimpang dari permasalahan yang dipersoalkan. ” Yang tambah baik seperti itu (lewat komunitas tertutup), ” ucap bekas Gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi juga meyakini, semua masalah yang dipertanyakan SBY bisa terjawab dengan terang apabila dibicarakan lewat musyawah dalam komunitas tertutup.
” Lalu dicarikan jalan keluar serta di sampaikan pada orang-orang, ” Jokowi menandaskan.

Bukan sekedar pemerintah serta mahasiswa yang bereaksi atas sikap yang dipertunjukkan SBY. Bekas kaderanya di Demokrat, Anas Urbaningrum, juga ikut mulai bicara. Anas yang pernah jadi Ketua Umum Partai Demokrat menyindir tweet yang di sampaikan SBY berkaitan tindakan mahasiswa yang menggeruduk tempat tinggalnya di Kuningan. Sindiran itu di sampaikan Anas lewat account Twitternya.

” Pak Presiden SBY (waktu itu) yg menyukai hukum serta keadilan. Tahukah Ayah brp kali demonstran di kirim ke tempat tinggal saya? *abah, ” catat Anas, dalam account @anasurbaningrum

Sindiran Anas

Anas menyebutkan, waktu itu ia mempertanyakan haknya sebagai warga negara untuk memperoleh rasa aman. Tetapi demikian, ia tak menumpahkan keluh kesahnya itu dalam account Twitter.

” Saya ajukan pertanyaan kpd Presiden (waktu itu), apakah Ayah perduli thd keselamatan serta keadilan? Alhamdulillah, saya tak ngetuit. *abah, ” tutur Anas.

Menurut bekas Ketua Umum PB HMI ini, unjuk rasa memanglah tidak etis dikerjakan di tempat tinggal seorang. Dia juga cuma mendoakan supaya SBY dalam kondisi sabar.

” Demo ke tempat tinggal pribadi terang tak elok. Saya berdoa smg Pak SBY diberikan ketenangan serta kesabaran. *abah, ” kata dia.

Walau sang Ketua Umum terasa terserang dari sana sini, Partai Demokrat masihlah yakin pada pemerintah. Asumsinya, pemerintah pastinya akan membuat perlindungan tiap-tiap warga negaranya, terutama untuk SBY yang disebut bekas presiden.

” Prasangka kami tetaplah baik, kalau negara bakal membuat perlindungan semuanya warga negaranya, termasuk juga pasti Pak SBY, baik dia seseorang presiden ke-6 atau rakyat umum serta demikian halnya ketua umum partai, ” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan waktu Dies Natalis Partai Demokrat di JCC.

Diluar itu, Hinca juga terasa serangan pada SBY sepanjang kampanye Pilkada Serentak 2017 adalah hal yang lumrah.

” Bila serangan-serangan sekian hari ini atau katakanlah sepanjang pilkada ini yang cukup tinggi tensinya, kami membacanya sebagai suatu hal yang normal saja, ” ucap Hinca.

Yg tidak normal, menurutnya, yaitu beragam aksi tidak mematuhi hukum. Sebut saja saat SBY mengemukakan ada sangkaan penyadapan pada dianya dan kehadiran massa ke depan tempat tinggal SBY.

” Yang ke-2 paling beresiko, lantaran (tempatnya) itu tidak jauh serta tetanggaan dengan Kedutaan Besar Qatar. Jadi itu kedutaan besar miliki hukum internasional sendiri, Karenanya negara tak bisa kecolongan untuk beberapa hal seperti itu, ” tutur Hinca.

Salam Admin By Vijay Semoaga Berita Ini Bermanfaat.

Related posts