Dimana Keadilan Bagi Novel Atas Lebih Cepatnya Aksi Polisi Usut Kasus Pencemaran Nama Baik Dibanding Penyiraman Air Keras?

Dimana Keadilan Bagi Novel Atas Lebih Cepatnya Aksi Polisi Usut Kasus Pencemaran Nama Baik Dibanding Penyiraman Air Keras?

Berita Aktual, Berita Nasional – Saat ini pihak dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta tengah mempersiapkan tim jaksa peneliti untuk segera mengikuti penyidikan kasus atas pencemaran nama baik dari Direktur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Komjen Aris Budiman oleh Novel Baswedan. Hal Ini dilakukan setelah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Kasi Penkum Kejati DKI Jakarta yakni Nirwan Nawawi mengungkapkan, bahwa pihaknya menerima SPDP no. B/11995/VIII/2017/Datro dari Polda Metro Jaya pada tanggal 31 Agustus 2017. Kasus tersebut dilaporkan pada tanggal 13 Agustus 2017 yang lalu. Dan untuk saat ini kasus tersebut tengah naik dari penyelidikan menjadi penyidikan.

“Dilaporan bahwa adanya dugaan tindak pidana atas pencemaran nama baik atau penghinaan berupa fitnah melalui media elektronik sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU ITE, atau Pasal 310 atau 311 KUHP,” ucapnya di Jakarta, pada Jumat (01/09/2017).

Dirinya menerangkan bahwa pihaknya kini juga telah menindaklanjuti SPDP kasus penghinaan melalui email yang mana dilakukan langsung oleh Novel Baswedan pada tanggal 14 Februari 2017. “Dalam hal ini pihak Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta akan melakukan proses penunjukan jaksa peneliti untuk mengikuti dan memantau perkembangan dari penyidikan,” ucap Nirwan.

Sedangkan bila di telusuri sangat jauh berbeda mengenai nasib yang terjadi pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang masih belum ada kabar kepastiannya. Pihak penyidik senior KPK tersebut diketahui disiram air keras oleh orang yang tidak dikenal setelah pulang salat Subuh di kediamannya Jalan Deposito T nomor 8, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakut, pada Selasa (11/04/2017).

Namun, sudah ada berjalan hingga empat bulan berlalu, untuk kasus penyiram dari Novel Baswedan masih menjadi kasus misterius. Padahal bila dianalisa sejumlah titik terang sudah dikantongi pihak kepolisian untuk bisa mengungkapkan kasus tersebut.

Berbagai bukti telah dikumpulkan yaitu dengan adanya rekaman CCTV dan kemudian jepretan kamera tetangga rumah terkait dua pria yang dicurigai sebagai penyiram Novel. Dalam rekaman tersebut terlihat keduanya kerap mondar-mandir di sekitar rumah Novel sebelum adanya insiden penyiraman.

Kasus tersebut pun semakin rumit setelah Novel meyakini serangan tersebut berbuntut kasus dugaan korupsi yang ditanganinya. Bukan hanya itu saja, dirinya pun berkali-kali menyebut ada perwira tinggi kepolisian di balik teror terhadapnya.

Polisi pun saat ini telah meminta keterangan Novel yang ada di Singapura terkait dugaan keterlibatan jenderal tersebut. Namun Novel masih tetap saja bungkam dan masih belum mau mengungkapkan siapa identitas jenderal tersebut sehingga membuat polisi mengaku kesulitan membongkar kasus tersebut.

“(Soal keterlibatan jenderal) Dirinya masih belum menyampaikan, intinya belum waktunya saya sampaikan sebelum pelaku ditangkap,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, pada Rabu (23/08/2017).

Dengan belum terungkapnya atas kasus penyiraman terhadap Novel membuat pihak keluarga ikut bersuara. Keluarga hingga saat ini bahkan menyurati Presiden Joko Widodo untuk segera dibentuknya tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus ini.

“Harapannya tentu yaitu agar segera ada perhatian dari bapak presiden dalam membentuk TGPF agar dapat melihat fakta-fakta penyiraman air keras tersebut secara obyektif,” ucap istri Novel yakni Rina Emilda (Emil) di rumahnya Jalan Deposito Blok T nomor 8, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Senin (28/08/2017).

Kira-kira akankah Jokowi membentuk TGPF demi memberikan keadilan kepada pimpinan penyidik KPK, Novel Baswedan?

Related posts