Kronologi Warga Yang Hilang Hak Suaranya

kronologi-warga-yang-hilang-hak-suaranya

Berita Aktual, Berita Nasional Beberapa puluh photo, video, dibarengi teks dalam waktu relatif cepat penuhi sosial media. Intonasinya bermacam. Ada geram, kecewa, serta sedih. Beberapa puluh bahkan juga beberapa ratus warga yang lain tak dapat mencoblos dalam Pilkada DKI Jakarta, Rabu tempo hari.

Suhani, pengawas TPS 88, Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat, menjelaskan kesaksiannya. Kesaksian itu juga dia tuang dalam berita acara yang diserahkan pada Pengawas Pemilu Cengkareng.

Suhani menjelaskan, beberapa pemilih yang cuma membawa KTP telah berdatangan ke TPS. Mereka yaitu beberapa pemilih yg tidak tercatat di Daftar Pemilih Tetaplah pada Pilkada DKI Jakarta.

Dalam ketentuannya, pihak panitia mengutamakan beberapa pemilih yang terdata didalam DPT. Sesaat pemilih yg tidak tercatat bisa pilih pada jam 12. 00 WIB.

” Kami cuma lakoni ketentuan, jam 12 baru di buka untuk yang DPTb (Daftar Pemilih Penambahan), “

Waktu pendaftaran mulai di buka pada jam 12. 00 WIB. Pihak Grup Penyelenggara Pemungutan Nada (KPPS) membatasi 20 surat nada dari 2, 5 % nada penambahan.

Waktu 20 pemilih penambahan mulai masuk ke ring TPS, beberapa puluh orang lain turut masuk serta protes pihak KPPS yang membatasi pemilih penambahan. Sesaat petugas KPPS disibukkan dengan mencatat manual jati diri satu per satu beberapa pemilih itu.

” Petugas KPPS-nya kewalahan, kan mencatat nama sama jati diri DPTb itu manual, mencatat nama, usia, alamat, serta semua, ” kata Suhani.

Lantaran jumlah mereka yang banyak, sesaat petugas yang mendata cuma satu orang, banyak yg tidak tercatat.

” Jam telah nunjukkin jam 1 siang, ya kami tidak berani nambah lagi. Meskipun ada tersisa surat nada 201 lagi, KPPS segera tutup pendaftaran. Kami amankan kotak nada, lantaran mereka teriak-teriak selalu, ” kata Suhani.

Selesai mendaftar DPTb, lantas pencoblosan dilanjutkan dengan DPTb yang telah tercatat. Pencoblosan berjalan setegah  jam lalu.

” Jadi tak benar bila mereka dihalangi, memanglah waktunya habis. Toh beberapa dari mereka yang telah didaftar (dicatat) KPPS serta tetaplah dapat nyoblos. Jadi, bukanlah diskriminasi, namun itu ketentuannya, rekan dari rombongan mereka ada yang dapat milih kok, ” papar Suhani.

Suhani mengaku ada surat nada lebih di TPS 88. Jumlahnya meraih 201. ” Serta itu telah dicoret dan dikembalikan, mereka yang teriak-teriak itu juga saksiin kok (sistem pencoretan surat nada berlebihan). Kami tidak melarang atau menghambat orang buat nyoblos, memanglah jumlah mereka yang banyak, tengah DPTb yang hanya 2, 5 % itu, telah habis. Itu saja telah ada surat nada DPT yang digunakan untuk mereka, ” ucap Suhani.

Ketua Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Cengkareng, Euis Muldiyati, menyampaikan, ia tiba di TPS 88 sekitaran jam 12. 30 WIB. Situasi di TPS itu telah mulai tak kondusif. Beberapa puluh warga telah mulai berteriak memohon pihak KPPS mempersilakan mereka untuk pilih.

Ida, warga Blok C, Perumahan Mutiara Taman Palem, Cengkareng Timur, Jakarta Barat, menyebutkan kalau ia dipimpong oleh petugas TPS-TPS yang ada.

” Kita seperti tidak bisa milih gitu, dioper sana-sini. Hingga di satu TPS, tuturnya tidak dapat, telah habis, suruh ke TPS lain. Jawabannya juga gitu, hanya 20 surat nada yang nyisa, pada akhirnya kami lari-larian ke TPS 88 itu, sesungguhnya ada satu TPS lagi, TPS 87, namun itu jauh, ” kata Ida

Ida menyangkan dianya yang tidak dapat pilih. Ia kecewa dengan TPS-TPS yang didatanginya serta beberapa puluh warga perumahan Mutiara Taman Palem yang lain.

Tetapi, Ida mengaku ada kesimpangsiuran data pemilih di tempat rumahnya. Menurut dia, Ketua RW serta RT semasa penentuan Presiden lantas lebih aktif. Tetapi, waktu penentuan gubernur ini, pengurus RT serta RW mereka tidak aktif hingga, banyak warga yang tidak tercatat dalam DPT.

Di Luar Perkiraan

Komisi Penentuan Umum (KPU) DKI Jakarta menyebutkan, kurangnya surat nada dalam pengambilan suara Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017 diluar perkiraannya. Sebab, banyak pemilih yang memakai E-KTP.

” Jadi surat nada kurang lantaran banyak pemilih memakai e-KTP yang jadi daftar pemilih penambahan (DPTb). Mereka datang ke Tempat Pemungutan Nada (TPS) pilih memakai surat nada daftar pemilih tetaplah (DPT), ” tutur Komisioner KPU DKI, Dahliah Umar.

Dia menyampaikan, ada sedikit kesalahan di saat pencoblosan Rabu 15 Februari 2016 tempo hari. Semestinya, prioritas surat nada diberikan pada pemilih yang terdaftar daftar pemilih tetaplah (DPT) di setiap tempat pengambilan suara (TPS) yang dijadwalkan 07. 00 -12. 00 WIB.

” Baru hak nada Daftar Pemilih Penambahan (DPTb) waktu pilih di satu jam terkahir, 12. 00-13. 00 WIB. Tetapi kenyataan di lapangan, pemilih DPT serta DPTb datang dengan cara acak berbarengan, hingga ada surat nada yang harusnya untuk pemilih DPT dipakai DPTb, jadi stock awal disiapkan TPS habis, ” tutur dia.

Salam Admin By Vijay Semoaga Berita Ini Bermanfaat.

Related posts