Licin Bagai Belut, Setya Novanto Kembali Mangkir Dari Pemeriksaan Kasus E-KTP

Licin Bagai Belut, Setya Novanto Kembali Mangkir Dari Pemeriksaan Kasus E-KTP

Berita Aktual, Berita Nasional – Setelah sebelumnya sempat sembuh pasca dikabarkan mengalami sakit yang berujung dirawatnya Ketua DPR Setya Novanto di rumah sakit, kini Setnov kembali mangkir dari pemeriksaan atas kasus E-KTP. Setya Novanto sudah dipastikan tidak akan menghadir pemeriksaan dalam kasus korupsi e-KTP.

Melalui juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Febri Diansyah mengungkapkan bila surat ketidakhadiran dikirim pengacara Novanto ke bagian persuratan KPK pada pagi ini.

“Perihal mengenai surat baru kami terima tadi pagi di bagian persuratan KPK. Melalui pihak pengacara SN mengirimkan pemberitahuan bila yang bersangkutan SN tidak bisa hadir,” papar Febri ketika dikonfirmasi, pada Rabu (15/11/2017).

Terkait akan hal tersebut, Setya Novanto sebenarnya pada hari ini dipanggil untuk melakukan pemeriksaan sebagai salah satu tersangka dalam kasus e-KTP. Tentunya untuk pemanggilan Novanto sebagai tersangka tersebut telah disampaikan KPK pada Senin (13/11/2017).

Kemudian daripada itu, untuk pemanggilan dari Setnov ini adalah pemanggilan perdana untuk Novanto yang mana setelah kembali ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus e-KTP.

KPK kini kembali menetapkan Novanto sebagai tersangka pada Jumat. Sebelumnya, Novanto berhasil lolos dari status tersangka di dalam penetapan sebelumnya setelah sukses dalam memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

Seperti yang diketahui bila, masalah mengenai kasus E-KTP, Novanto dan juga bersama sejumlah pihak diduga telah menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

Sejumlah pihak itu antaranya yakni Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, serta dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

Kemudian bukan hanya sampai disitu saja, Novanto juga diduga telah menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Dengan adanya penyelewengan tersebut, Setnov bersama dengan kelompok terkait dikabarkan telah mengakibatkan kerugian bagi negara dan diduga untuk kerugian yang ada mencapai hingga Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

Untuk pasal yang disangkakan terhadap Novanto yaitu Pasal 2 Ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Related posts