Menjelajahi Alasan Budaya Gadis Tiongkok Mengikat Kaki Menjadi Mungil

Menjelajahi Alasan Budaya Gadis Tiongkok Mengikat Kaki Menjadi Mungil

Berita Aktual, Berita travel – Mengenal tradi dari budaya di Tiongkok, ada opini yang menyatakan bahwa bila seorang perempuan yang memiliki kaki mungil begitu disenangi oleh para lelaki. Oleh karena itu ada pada zaman dulu ada namanya tradisi dalam mengikat kaki,dimana dulunya kaki anak perempuan akan dipaksa untuk diikat. Sakit yang luar biasa tentunya dapat dirasakan oleh mereka saat itu ,bagaimana tidak kaki yang normal kemudian harus disiksa dengan cara ditekuk dan diikat, tentunya dengan adanya kebiasaan ini begitu sangat menyiksa dan menyakitkan.

Pada berabad-abad zaman para wanita tiongkok percaya bahwa dengan mengikat kaki maka dapat menahan laju pertumbuhannya dan membuat otot panggul menjadi kencang karena beberapa perempuan itu mesti diharuskan berjalan dengan cara berjinjit.

Mereka menyakini bahwa hal semacam itu dapat membantu dalam menyempitkan otot vagina, serta membuat kenikmatan akan hasrat para lelaki. Hal tersebut dapat ditemukan dalam satu buku yakni “Bound feet, Young hands” yang mana penulisnya adalah Lauren Bossen.

Namun akant tetapi, Bossen mengatakan bahwa kebiasaan dengan cara mengikat kaki oleh beberapa perempuan kini masih terus dipertahankan karena menyangkut aspek ekonomi. Hal ini disebabkan karena dengan cara melakukan pengikatan kaki bukan hanya dapat menyakitkan kaki namun dapat membatasi mobilitas beberapa wanita sehingga para anak-anak perempuan tidak dapat pergi dengan bebas secara leluasa.

Faktanya hal semacam ini bakal dianggap menguntungkan orang-tua karena anak-anak dapat diminta tolong dalam melakukan pekerjaan dengan mengerjakan pembuatan benang, kain, jala, tikar, ataupun sepatu. Sedangkan secara logikanya kebiasaan mengikat kaki pada beberapa wanita untuk menciptakan kenikmatan seksual pria merupakan suatu distorsi histori, ” ucap Bossen.

Kenyataan ini pun terungkap sesudah Bossen serta rekannya Hill Gates, yang disebut sebagai profesor antropologi di kampus yang mana telah mewawancarai sekitar 1.800 perempuan lansia yang menyebar di pedesaan Tiongkok untuk menggali lebih dalam kebiasaan yang populer serta menyeramkan ini.

Penulis buku ini juga mengaitkan umur perempuan waktu kakinya mulai dilakukan pengikatan dengan pekerjaannya.

“Ibu mengikat kakiku ketika saya berumur sekitaran 10 tahun saat itu, pada waktu itu saya mulai memutar kapas. Setiap saat dia mengikat kakiku, sangat sakit sekali hingga saya harus menangis,” ungkap seorang perempuan yang diwawancarai.

Pengikatan kaki mulai secara alami mengalami penurunan pada awal era ke- 20. Saat ini kebiasaan menyeramkan ini cuma tersisa narasi sedih serta sisa luka dari mereka yang dipaksa untuk melakukan kebiasaan ini.

Related posts