Perlunya Jakarta Belajar Politik Secara Dewasa

perlunya-jakarta-belajar-politik-secara-dewasa

Berita Aktual, Berita Nasional Pengambilan suara Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 telah usai dikerjakan. Kian lebih tujuh juta warga selesai menunaikan keharusan pilih. Hasil kalkulasi cepat beberapa instansi sigi meletakkan Anies Rasyid Baswedan serta Sandiaga Salahudin Uno sebagai pemenang. Mereka memecundangi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok serta Djarot Saiful Hidayat dengan selisih nyaris 10 %.

Bila menilik ke belakang, perjalanan Pilkada DKI Jakarta 2017 termasuk juga satu diantara pertarungan politik yang cukup melelahkan. Pilkada ini dapat jadi momen yang paling besar diluar Pemilu Presiden. Ini dapat kita saksikan dari tingginya angka partisipasi warga yang meraih kian lebih 75 %.

Beberapa pengamat menilainya, tingginya partisipasi ini jadi tanda positif dalam berdemokrasi. Nona Evita, peneliti Populi Center menyebutkan, partisipasi warga bahkan juga tidak cuma di bilik nada. Mereka menggelorakan semangat baru dalam berdemokrasi.

” Ada (semangat baru), serta ini jadi signal positif, “

Walau sekian, ada saja permasalahan yang masihlah menyelusup. Sebab, Pilkada DKI yang dikira sebagai tanda politik nasional masihlah jadi tempat aktor politik tradisional yang tidak siap dengan perubahan jaman.

Satu diantara permasalahan itu yaitu politik jati diri. Topik politik jati diri ini disadari Dirga Ardiansa, pengamat politik dari Puskapol UI, jadi satu diantara topik yang dimainkan dalam pilkada kesempatan ini. Pilkada tidak dapat betul-betul bersih dari topik politik yang tradisional.

” Segi budaya politiknya masihlah primordial, ” tutur Dirga.

Berkaca dari Pilkada Jakarta, gosip primordial pernah membikin kondisi nyaris tegang. Pemicunya, masalah menyangkut gosip agama. Ini terlihat dari timbulnya gerakan dilarang menyalatkan jenazah pemilih lain agama yang diusung beberapa pihak di sosial media.

Bila ditilik lebih cermat, kata Dirga, gosip sejenis itu sesungguhnya buah simalakama. Di kelompok bawah, penyerang dapat memperoleh untung dari mobilisasi massa, serta yang terserang ditinggalkan pemilih tradisional. Di kelompok elite, penyerang memperoleh tuduhan rasis, serta yang terserang memperoleh empati.

” Jadi imbasnya, sesungguhnya orang-orang yang terbelah, ” ucap Dirga.

Dirga serta Nona bukanlah tanpa ada argumen. Hasil sigi exit poll serta kalkulasi cepat Saiful Mujani Research Center serta Populi Center tunjukkan, banyak pemilih memakai hak nada lantaran aspek persamaan agama. Bahkan juga dalam survey SRMC tersingkap, sejumlah 32, 3 % dari 2. 029 responden berlaku anti-pati di pimpin gubernur nonmuslim.

Ini bermakna, permasalahan politik jati diri masihlah jadi aspek cukup siginifikan di Pilkada DKI Jakarta. Sebab, jati diri lebih paling utama dibanding dengan visi-misi yang diusung. ” Ini terang bukti dari orang-orang belum lulus ujian demokrasi, ” kata Nona.

Diluar permasalahan itu, hiruk-pikuk Jakarta tetap masih seperti umum. Sebagai Ibu Kota, Jakarta miliki semakin banyak permasalahan yang kudu dikerjakan. Walau sekian, perseteruan horisontal ini mesti cepat-cepat dikerjakan. Sebab, ini mungkin saja preseden untuk Jakarta ke depan.

” Tantangannya yaitu kembalikan orang-orang yang telah terkotak-kotak, ” kata Hendri Satrio, pakar komunikasi politik Kampus Paramadina.

Masalah ini, rupanya diakui Anies-Sandi. Pilkada DKI sudah jadi ujian buat semua warga DKI dalam berdemokrasi. Keduanya sadar, DKI mesti selekasnya berbenah. Sebab, ujian telah selesai dikerjakan. Keduanya mengajak warga untuk kembali berbarengan bangun Jakarta yang baru belajar berdemokrasi.

” Pekerjaan kita tak berhenti hari ini. Malah pekerjaan yang semakin besar menunggu dihadapan kita. Tidak cuma untuk Anies, tidak cuma untuk Sandi. Namun, ini yaitu kerja berbarengan semua warga Jakarta, ” ucap Anies waktu mengemukakan pidato kemenangan.

Salam Admin By Vijay Semoaga Berita Ini Bermanfaat.

Related posts