Sebelum Dibakar Joya yang Meninggal Dengan Tragis Sempat Minta Maaf dan Mencium Kaki Marbot Musala

Sebelum Dibakar Joya Yang Meninggal Dengan Tragis Sempat Minta Maaf dan Mencium Kaki Marbot Musala

Berita Aktual, Berita Nasional – Hingga hari ini, Polisi telah berhasil meringkus lima orang tersangka pengeroyokan dan pembakaran secara hidup-hidup terhadap M Alzahra atau Joya. Pria berusia 30 tahun itu dihakimi massa karena diduga kuat telah melakukan pencurian amplifier atau alat pengatur suara musala di Babelan, Kabupaten Bekasi.

Pihak Kapolres Bekasi Kombes Pol Asep Adi Saputra menuturkan, berdasarkan keterangan dari para saksi dan bukti yang ada di lapangan menunjukkan bahwa Joya diduga kuat sebagai salah satu pelaku pencurian amplifier. Kendati demikian, negara mempunyai aturan hukum, dan dirinya sangat menegaskan aksi main hakim sendiri merupakan perbuatan pidana dan tidak bisa ditolerir.

“Pernyataan ini kami ambil kesimpulan setelah kami mendalami lebih detail seluruh saksi yang ada. Bahkan, menurut saksi kunci saudara Rojali sebagai marbot Musala Al Hidayah berkali-kali menegaskan bahwa ketika aksi pencurian tersebut terjado, dirinya lah yang menangkap basah terduga pelaku,” ungkap Asep di Mapolda Metro Jaya, pada Rabu (09/08/2017).

Rojali adalah saksi yang sempat berada satu tempat bersama Joya ketika sedang berada di musala. Saat itu Rojali menyadari bila amplifier di musala tiba-tiba raib dan lantas mengejar Joya hingga kawasan Pasar Muara, yang jaraknya itu sekitar empat kilometer.

Tidak sampai disitu, Rojali akhirnya berhasil menghentikan Joya dan mendapati amplifier milik Musala Al Hidayah di tangannya. Dalam pengecekan amplifier tersebut, Joya berusaha melarikan diri hingga dirinya tertangkap massa.

“Nah dari sanalah kemudian peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi. Awalnya Rojali sempat berteriak ‘ini bukan maling motor melainkan maling ampli’,” ucap Asep seraya menirukan nada ucapan Rojali.

Rojali terus berteriak agar para massa tidak mengeroyok Joya dan mendengar penjelasan dari korban. Namun massa sudah keburu yang terlanjur emosi dan tidak lagi menggubris upaya dari Rojali untuk mencegah aksi main hakim tersebut.

“Dia (Joya) itu ada sempat cium kaki Rojali untuk meminta maaf, ‘maafkan saya pak ustaz’, begitu. Namun amarah dari massa sudah tidak terbendung lagi. Rojali sempat menghalau, tapi kalah jumlah dengan massa yang berkumpul memadati, sehingga terjadi pengeroyokan disertai dengan pembakaran yang menewaskan MA (Joya),” ungkap Asep.

Related posts