Turunnya Omzet Penjualan Hingga 80 Persen, Pemilik Konter Ponsel Unjuk Rasa Di Kantor Grapari Telkomsel

Turunnya Omzet Penjualan Hingga 80 Persen, Pemilik Konter Ponsel Unjuk Rasa Di Kantor Grapari Telkomsel

Berita Aktual, Berita Nasional – Ada banyak hingga puluhan dus kartu perdana terlihat berserakan di depan sebuah kantor perwakilan dari layanan perusahaan operator jaringan seluler yang ada di Purwokerto. Sementara itu untuk isinya sendiri juga tampak berhamburan tak menentu arah di area parkir.

Setelah ditelusur, Senin (06/11/2017), ternyata kartu perdana yang berhamburan tersebut merupakan milik dari konter ponsel yang berasal dari Purbalingga dan juga Banyumas yang mana kala itu berunjuk rasa di depan Kantor Grapari Telkomsel Purwokerto. Adapun aksi tersebut dilakukan lantaran mereka meminta agar registrasi kartu perdana agar dapat dipermudah.

Seperti misalnya salah seorang demonstran yakni Slamet Mubasir menginformasikan bila sejak 31 Oktober 2017, para pemilik konter HP seakan dipersulit lantaran pihak mereka merasakan kesulitan dalam menjual kartu perdana yang mana selama ini menjadi mata pencaharian mereka. Alhasil akibatnya, omzet penjualan kartu perdana pun menjadi turun drastis hingga mencapai 80 persen.

Dengan adanya kebijakan saat ini mengenai adanya penregistrasian baru dan ulang dari kartu SIM perdana yang diatur oleh Kemenkominfo saat ini, telah membuatnya hanya dapat meregistrasi tiga kartu dalam sehari. Selain itu dirinya juga membeberkan bila biasanya dalam sehari sebagai reseller, dia bisa meregistrasi sebanyak 5.000 kartu.

Selain itu, umumnya dalam sehari juga ia mengaku mampu meraup keuntungan lebih dengan menjual hingga 500 unit kartu perdana per harinya. Namun sekarang ini, dari bisnis yang ada, dirinya hanya hanya mampu dalam menjual 100 kartu perdana. Hal ini lantaran ada banyak pembeli yang mengeluh tidak dapat registrasi lantaran tidak membawa Kartu Keluarga (KK) seperti yang telah disyaratkan.

“Sehari biasanya saya bisa dapat 500 set, sekarang hanya 100 kartu perdana. Karena orang yang pada datang, biasanya kepengin membeli otomatis agar dapat langsung dipakai,” paparnya, di Purwokerto.

Hal itu disebabkan Slamet meminta agar Kementerian Komunikasi dan juga Informatika dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) memberikan keleluasaan kepada pemilik konter HP dengan satu identitas untuk lebih dari tiga kartu perdana, tanpa harus datang ke perwakilan langsung operator seluler.

Tidak berbeda jauh dengan pemilik konter HP lainnya, Santo juga mengakui mengalami penurunan omzet harian yang signifikan. Penyebabnya juga sama, mereka kini tidak dapat meregistrasi kartu perdana sebelum pelanggan datang ke konter. Menurut Santo, ketentuan ini membuat para pelanggannya malas ke konter lantaran harus menunggu lama.

Pasalnya, kata Santo, mereka sudah terbiasa memperoleh kartu perdana yang telah siap digunakan, tanpa meregistrasi kartu perdana. “Sedangkan dengan adanya peraturan ini, pembeli datang bawa KTP. Karena gampang ditaruh di dompet, tapi kalau KK tidak,” Santo menambahkan.

Sementara, Brand Manager Grapari Telkomsel Purwokerto, Rahmad Septiarno mengatakan, hingga saat ini pihaknya tak bisa meluluskan permintaan para pemilik konter ponsel.

Sebab, Telkomsel harus taat kepada regulasi pemerintah soal registrasi kartu perdana. Namun begitu, ia pun mengaku akan berkoordinasi dengan pusat untuk menyampaikan keluhan para pemilik konter HP ini.

Related posts