Warga Singapura Tidak Bisa Membeli Mobil Tahun 2018, Ada Apa?

Warga Singapura Tidak Bisa Membeli Mobil Tahun 2018, Ada Apa?

Berita Aktual, Berita Otomotif – Sudah menjadi rahasia umum bila negara Singapura sering kali disebut sebagai salah satu negara yang mematok harga kendaraan sangat mahal. Meskipun sudah memiliki harga yang melambung sangat mahal, namun seperti yang dinformasikan bila tahun 2018 tepatnya pada bulan Februari, Singapura diketahui akan segera untuk menghentikan pertumbuhan populasi kendaraan.

Lantas seberapa mahal harga mobil yang ada di Singapura? Sebagai salah satu perbandingan bahwa harga Toyota Sienta yang ada di Indonesia mulai dari Rp 233 juta, sedangkan di Singapura sendiri mulai dari S$ 96.988 atau setara dengan Rp 962 juta. Seperti pemberitaan yang dilangsir dari media masa bila harga mobil di Negeri Singa tersebut lebih mahal hampir empat kali lipat ketimbang harga mobil yang ada di Negeri Paman Trump.

Dengan adanya pertumbuhan populasi dari kendaraan per tahun akan menjadi nol persen, sebelumnya 0,25 persen. Jelasnya untuk angka pertumbuhan tersebut akan ditinjau kembali pada tahun 2020.

Seperti yang dilansir Reuters, untuk langkah ini nantinya perlu dilakukan karena keterbatasan lahan yang dapat digunakan untuk jalan raya. Menurut Land Transport Authority (LTA), hingga saat ini sudah ada 12 persen dari lahan di Singapura yang digunakan sebagai jalan raya. “Melihat dari kebutuhan yang ada, lahan tambahan yang dapat digunakan sebagai jalan raya sangatlah terbatas,” papar LTA.

Tahun lalu, setidaknya sudah terdapat 600 ribu unit mobil pribadi dan rental yang ada di jalanan, dengan total jumlah penduduk sebanyak 5,6 juta jiwa. Tentunya untuk angka penduduk yang bertambah 40 persen dibanding tahun 2000.

Meskipun demikian, Singapura juga akan terus fokus kepada layanan transportasi publik. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, jaringan rel kereta api sudah ada bertambah 30 persen dengan kehadirannya 41 stasiun kereta baru. Rute serta kapasitas bus juga nantinya akan ditambahkan.

Pemerintah sendiri nantinya akan menginvestasikan sebesar S$ 20 miliar atau setara Rp 198 triliun untuk bisa menambah infrastruktur rel kereta baru, memperbarui kereta, dan juga menambahkan aset. Selain itu akan ada aksi pemerintah dalam menginvestasikan S$ 4 miliar (setara Rp 39 triliun) untuk yang namanya subsidi di sektor transportasi bus.

LTA sendiri masih mengizinkan pertumbuhan mobil pengangkut kebutuhan pokok dan juga bus sebesar 0,25 persen hingga kuartal pertama tahun 2021.

 

Related posts